Home » » Proses Pengawetan Kayu

Proses Pengawetan Kayu

Sebenarnya persediaan kayu dinegara kita cukup tinggi. Tapi masalahnya, tidak semua kayu memiliki keawaetan alami yang tinggi. Kalau ada, jumlahnya tidak banyak, dan waktu yang dibutuhkan untuk siap terbang sangat panjang. Selain itu. Tidak ada mekanisme penanaman kembali yang cukup memadai. Makanya kebutuhanya menjadi lebih tinggi dari ketersediaanya, sehingga harganya jadi mahal.

Selama ini orang mengenal kayu yang unggul dan layak dipakai untuk struktur rumah, kusen, atau furnitur adalah kayu jati. Unggul dalam artian kuat, awet (umur pakainya panjang), dan berserat indah. Padahal kayu jati yang unggul ini adalah kayu dari pohon jati yang umurnya sudah puluhan tahun. Kalau jatinya masih muda (seperti yang saat ini banyak dipakai orang ) sebenarnya ia tidak terlalu unggul. Karena semakin muda kayu, umur pakainya juga semakin pendek. Tapi harga jati mudapun menjadi tinggi karena sudah terlanjur dikenal sebagai kayu kelas I.

Kayu meranti (kelas III), borneo (kelas IV), karet (kelas 5), termasuk kayu yang tidak terlalu kuat dan awet. Kayu seperti ini mudah diserang jamur, serangga, dan organisme perusak kayu termasuk rayap. Tapi kayu-kayu ini membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk bisa layak terbang, ketersediaan lebih banyak, sehingga harganyapun relatif lebih murah. Tapi sayangnya karena tidak seawet jati, banyak orang yang enggan menggunakan.

Pengawetan maksudnya adalah perlakuan yang diberikan pada kayu (diantaranya adalah Pemberian bahan-bahan kimia), yang membuatnya menjadi lebih awet atau lebih panjang umur pakainya. Yang dimaksud dengan awet adalah kayu menjadi lebih tahan atau kuat terhadap faktor perusak yang datang dari luar kayu itu sendiri. Dengan proses pengawetan, kayu kelas III yang umumnya cuma berumur 10 tahun bisa menjadi 40 tahun.

Selain pengawetan, kayu juga perlu di keringkan. Pengeringan adalah proses mengeluarkan air yang terdapat dalam kayu sampai mendekati kadar air lingkungan. Sebenarnya semakin tua kayu dia akan semakin kering dengan sendirinya. Karena itu, untuk kayu dengan umur muda, proses pengeringan sangat penting. Kayu yang sudah dikeringkan dengan benar memiliki beberapa keunggulan. Pertama, tidak akan memuai dan menyusut karena perubahan cuaca. Kedua, kayu yang kering tidak disukai rayap. Ketiga, kayu yang jering menjadi lebih ringan. Keempat, semakin rendah kadar air akan membuat kayu semakin kuat.

Bahan pengawet sebaiknya mampu mencegah serangan rayap tanah, rayap kayu kering, bubuk kayu kering, dan pada kayu yang terkena siraman air hujan harus dapat mencegah serangan jamur pelapuk dan pelunak kayu. Semua bahan pengawet yang beredar di indonesia sudah mendapat persetujuan Menteri pertanian. Jenis formulasi, kandungan bahan aktif, dan hama sasaran biasanya tertera pada labelnya. Sayangnya bahan-bahan pengawet ini agak susah didapatkan di pasaran, kebanyakan harus memesan langsung ke agen penjualnya. Selain itu, kebanyakan bahan pengawet ini dijual dalam kemasan besar, sehingga kurang ekonomis untuk penggunaan skala rumah tangga.

Bahan pengawet yang sudah umun dikenal adalah lentrek 400EC. Bahan ini relatif mudah diperoleh ditoko bangunan. Bahan lain yang bisa dipakai adalah boraks (bisa diperoleh di toko bahan kimia). Yang perlu diingat, ada jenis-jenis bahan pengawet yang membuat warna kayu berubah. Karena itu, jika difinishing yang dilakukan akan mengekspos urat dan warna alami kayu, sebaiknya dipilih bahan pengawet yang tidak mengubah warna kayu seperti senyawa boron atau borak borit.

Proses pengawetan kayu
Proses pengwetan kayu sebaiknya sudah dimulai sejak saat pohon ditebang menjadi dolok (gelondongan kayu). Dolok segar terutama yang tertimbun dulu di hutan dan tidak segera diangkut ke tempat penggergajian rentan serangan kumbang ambrosia (pinhole borer) dan jamur biru. Serangan kedua bisa menurunkan mutu dan kekuatan kayu gergajian. Secara tradisional, pengawetan dilakukan dengan menenggelamkan dolok ke sungai. Sementara cara yang lebih modern adakah aplikasi pestisida (pelaburan atau penyemprotan).

Gelondongan kayu

Selanjutnya setelah menjadi kayu gergajian, ada lagi proses pengawetan yang harus dilakukan. Pada fase ini, proses pengawetan dilakukan dengan teknik pencelupan, baik dengan ban berjalan atau pencelupan biasa di tong atau bak perendam menggunakan larutan pengawet.

Pada fase berikutnya, setelah kayu menjadi kayu potongan yang siap dipakai sebagai bahan baku pembuat rumah, ada beberapa teknik pengawetan yang bisa dilakukan.

1. Perendaman dingin
Prosesnya, kayu yang diawetkan ditumpuk di dalam bak perendam dan diberi pemberat agar tidak mengapung. Bak perendam ini bisa berupa bak permanen atau bak temporer yang terbuat dari drum bekas. Selanjutnya, larutan pengawet dimasukan hingga mencapai ketinggian 10cm diatas tumpukan balok kayu. Lama perendaman bervariasi, tergantung jenis dan ukuran kayu, tetapi umumnya berlangsung selama 2-5 hari. Selanjutnya, balok-balok kayu ditegakkan, diangin-anginkan, dan dijemur hingga kering.

2. Pengawetan panas-dingin
Prosesnya hampir mirip dengan perendaman dingin, hanya saja wadahnya sebaiknya menggunakan bak dari drum bekas. Di bagian bawah drum dibuat api unggun untuk merebus kayu bersama bahan pengawet. Pemanasan bak dilakukan sampai larutan pengawet mencapai suhu 70°C dan dipertahankan selama beberapa jam. Pemanasan dihentikan ketika sudah tak ada lagi gelembung udara yang keluar. Api pemanas dimatikan dan tumpukan kayu dalam larutan dibiarkan selama 24 jam. Selanjutnya balok-balok kayu ditegakkan, diangin-anginkan, dan dijemur hingga kering.

3. Pengawetan dengan vakum tekan
Proses ini tidak bisa dilakukan pada skala rumahan. Pengerjaanya harus dilakukan ditempat yang menyediakan jasa pengawetan kayu. Pertama-tama, balok-balok kayu disusun dalam wadah kerangka, kemudian dimasukan ke dalam alat vakum. Selanjutnya, vakum dinyalakan hingga mencapai tekanan 10cm Hg selama 1/4 -1 jam, tergantung jenis kayu. Selanjutnya, cairan pengawet dialirkan. Selama proses ini tekanan tidak boleh kurang dari 19 cm Hg. Setelah itu diberikan tekanan hidrolik pada tingkat tertentu dan dipertahankan selama beberapa saat. Tekanan berguna untuk memasukan bahan pengawet ke dalam kayu. Terakhir, vakum kembali dinyalakan untuk membersihkan sisa-sisa bahan pengawet.

4. Pengawetan secara difusi
Proses ini terdiri dari dua fase yaitu pengawetan dan penyimpanan. Pada proses pengawetan, kayu dicelup selama 10-15 detik menggunakan larutan bahan pengawet konsentrasi tinggi (20-30%). Bahan pengawet yang digunakan sebaiknya memiliki kelarutan tinggi dan dapat berdifusi kedalam kayu. Contohnya boraks dan asam borat dengan perbandingan 1,54 : 1. Selanjutnya, pada fase penyimpanan, kayu ditumpuk rapat dan dibungkus 2 lembar plastik. Plastik bagian luar harus berwarna gelap, dan plastik bagian dalam berwarna terang. Ini bertujuan meningkatkan suhu dan kelembaban dalam tumpukan untuk memacu proses difusi bahan pengawet.

Yang perlu diingat, apapun proses pengawetanya, sebaiknya kayu yang sudah diawetkan tidak diserut kembali melainkan langsung dipakai.

Cara membuat larutan pengawet
Untuk bahan pengawet berbentuk bubuk, perhitungan dinyatakan dalam persen berat/volume. Misal untuk membuat larutan 4% sebanyak 100 liter, anda harus menimbang pengawet sebanyak 4 kg dan dimasukan ke bak pencampur. Selanjutnya, ke dalam bak tersebut, ditambahkan air sambil diaduk sampai volumenya mencapai 100 liter.

Sementara untuk bahan pengawet berbentuk cairan, perhitungan dinyatakan dalam persen volume/volume. Misalnya untuk membuat larutan dengan konsentrasi 1,5% sebanyak 100 liter, anda perlu menakar 1,5 liter bahan pengawet dan dimasukan ke bak pencampur. Selanjutnya tambahkan air ke dalam bak hingga volume mencapai 100 liter.

Baca juga : Kayu untuk Bahan Pintu dan Jendela

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

loading...

Cari

Translate

Arsip Blog

loading...

Post Unggulan

Dak Bondek atau Bondex (Pelat Baja Gelombang)

Post Populer